Dalam salah satu adegan dalam drama Korea yang lagi booming saat ini, Teach You a Lesson, Na Hwa-jin dan Im Han-rim menyadari kedipan yang tidak biasa dalam sebuah iklan situs judi online yang mereka lihat.
Kedipan berpola yang mereka prediksi sebagai sebuah kode morse yang dibuat oleh rekan kerja mereka yang diculik oleh pemilik situs judi online tersebut. Berbekal hasil interpretasi dari kedipan tersebut, mereka menemukan lokasi di mana rekan kerja mereka kemungkinan disekap.
Namun, setibanya di lokasi tersebut yang merupakan sebuah gedung, ternyata tidak ada seorang pun yang berada di sana. Im Han-rim menganggap dirinya gagal dan pola kedipan tersebut bukanlah sebuah kode morse dan hanyalah kedipan biasa yang kebetulan menyerupai sebuah kode morse.
Untunglah pemikiran berbeda datang dari Na Hwa-jin, dia berpikir dan mengeksplorasi kemungkinan lain. Mungkin saja gedung tersebut adalah gedung yang dilihat rekan kerja mereka di posisi dia disekap. Dan, analisis dan tebakannya benar. Rekan kerja mereka, Bong Geun-dae, berada di gedung yang posisinya berseberangan dengan lokasi yang dikirim melalui kode morse.
Na Hwa-jin dan Im Han-rim bertindak berdasarkan ilmu, pengalaman, dan intuisi yang mereka punya. Apakah tindakannya bisa berhasil atau tidak, itu di luar kuasa mereka. Mereka bergerak berdasarkan probabilitas terbesar yang bisa mereka dapatkan saat itu. Namun, dalam dunia yang kita tempati ini, sebagian besar orang hanya mempertanyakan apakah hal tersebut akan berhasil atau tidak, sukses atau gagal, ya atau tidak, dan tidak peduli terhadap beragam kemungkinan yang bisa terjadi dalam sebuah tindakan yang diambil.
Ketika Na Hwa-jin dan Im Han-rim hanya menemukan gedung kosong tak bertuan, pandangan dari sebagian besar orang luar akan menganggap mereka gagal saat itu juga, namun setelah mereka berhasil menemukan lokasi yang benar, pandangan itu akan berubah seketika. Itulah dunia nyata. Orang-orang hanya melihat berhasil atau tidak mereka menemukan rekan kerja mereka. Hitam dan putih. Biner.
Perjudian Chivu
Serie-A baru berjalan 3 bulan saja, namun kursi sudah terasa panas buat Chivu. 4 kekalahan dari 12 laga awal Serie-A sudah membuat banyak pihak merasa bisa memastikan masa depan Chivu akan berusia seumur jagung di tampuk kepelatihan INTER.
Sebagai contoh, jumalis ternama yang cukup terkenal di X, Nima Tavallaey Roodsari, dengan akun X @NimaTavRood, dengan pede menyatakan bahwa Chivu bakalan dipecat pada bulan Desember 2025, dan harus segera menggantinya dengan Mourinho atau Mancini untuk menyelamatkan tim dari musim yang kacau.
Mourinho 2.0 or Mancio 3.0 in december to save the season after Chivu sacked
— Nima Tavallaey Roodsari (@NimaTavRood) September 1, 2025
Let me be clear: If Napoli pick up 10 points on Inter in 16 matches not only should Chivu be sacked, he should be tar & feathered whilst being whipped through the streets of Milan.
— Nima Tavallaey Roodsari (@NimaTavRood) January 25, 2026
Tidak usah malu untuk mengakui mungkin sebagian besar Interisti saat itu akan mengiyakan apa yang diucapkan Nima. Hati kecil saya pun saat itu berkata demikian. Nampaknya sulit bagi Chivu untuk menghindari pemecatan dan nasibnya akan seperti Gasperini tetapi dengan versi lebih panjang di INTER. Namun, sisi lain dari hati kecil saya juga berharap ada keajaiban, bahwa Chivu bisa memutar balikkan kondisi ini, karena dia pemain lejen bagi INTER, dan saya berat melihatnya dihujat sedemikian rupa jika mengalami kegagalan.
BACA JUGA:
1). [Giornata 17] Roma 2–2 INTER: Handa yang Doyan Lakuin Mannequin Challenge
2). [Giornata 16] Sampdoria 2–1 INTER: Apa yang sebenarnya ada dalam kepala Conte?
3). [Giornata 15} INTER 6–2 Crotone: Sudah Saatnya Vidal Temani Kolarov di Bench
5). Takdir Inzaghi
POV Nima dan kita sebagian besar Interisti kala itu melihat Chivu sebagai pelatih yang gagal. Begitu pula dengan penilaian kita terhadap manajemen yang dengan gegabah mempercayakan posisi pelatih kepala sebuah tim besar kepada seseorang yang track record-nya sebagian besar dihabiskan untuk mengarsiteki tim usia muda dan hanya mempunyai secuil pengalaman melatih di liga sebesar Serie-A.
Fast forward, 6 bulan kemudian POV orang-orang seketika berubah terhadap Chivu dan manajemen. Dari gagal menjadi berhasil. Dari hujatan menjadi pujian. Dua gelar domestik langsung dipersembahkan Chivu, Scudetto dan Coppa Italia, di musim pertamanya-sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Inzaghi dan Conte sebelumnya.
Manajemen menunjuk Chivu sebagai pelatih, sama dengan apa yang dilakukan Na Hwa-jin dan Im Han-rim. Ilmu, pengalaman, intuisi, dan tentu saja opsi terbesar yang mereka miliki saat itu, membuat mereka mempercayakan Chivu untuk menakhodai INTER sebagai pengganti Inzaghi.
Andai saat itu manajemen ditanya dari awal apakah Chivu bisa langsung memberikan gelar bahkan dua gelar sekaligus, tentu saja mereka tidak bisa memastikan, akan tetapi, mereka tentu juga mempunyai hitung-hitungan tingkat probabilitas di mana INTER akan berada di akhir musim dengan melihat kondisi tim dan juga tim rival. Tapi niscaya, akhirnya sebagian besar orang-orang di luar tidak peduli akan hal tersebut. Tindakan manajemen hanya akan dilihat dari sisi: Berhasil atau Tidak. Sukses atau Gagal. Sekali lagi BINER. Tapi itulah aturan main di dunia ini. Terima saja.
21 & 10 – Made in Romania
Mungkin tidak banyak yang menyadari apa yang dilakukan Chivu dalam memimpin INTER di musim 2025/2026 adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Apresiasi terasa sangat kurang, karena menganggap sudah seharusnya INTER mampu kembali menjadi raja lokalan.
Padahal, Chivu dikepung pelatih-pelatih lain yang berpengalaman dan sudah meraup Scudetto, belum lagi penguatan skuat yang tidak main-main dilakukan para rival, ditambah kondisi tim di awal musim yang ambruk karena kekalahan memalukan di Final Liga Champions serta tiada gelar yang mampu diraih pada musim sebelumnya.
Chivu tidak hanya berhasil membawa INTER meraih Scudetto dengan jarak hingga 9 poin dari juara bertahan Napoli asuhan Conte yang sebelumnya mampu membawa Juventus sebagai pemuncak Serie-A selama 3 musim beruntun dan bisa saja perbedaan poinnya bisa lebih besar andai INTER lebih serius dalam 2 pertandingan terakhir Serie-A yang sudah tidak berarti apa-apa, tetapi juga sukses mengantarkan INTER menggamit gelar ke 10 Coppa Italia.
Angka 21 dan 10 sekarang nangkring pada dinding pusat pelatihan klub, mengganti angka sebelumnya, berkat andil besar Chivu. Pria asal Romania tersebut statusnya sudah tidak hanya menjadi lejen ketika menjadi pemain namun sebagai pelatih INTER juga.

Sudah selayaknya bagi Interisti yang telah menganggap Chivu sebagai penunjukkan yang keliru dari manajemen ketika tim sudah mengalami 1/3 kekalahan dari selusin laga awal, seperti Nima, saya, dan mungkin juga kamu, meminta maaf kepada Chivu sebagai “penebusan dosa”.
Mari kita memohon maaf kepada Chivu atas penilaian hitam putihnya dari sebagian besar kita (yang sayangnya akan masih seperti itu selama dunia masih berputar), dengan ikut berjingkrak gembira atas pencapaian luara biasa Chivu dan tim dengan diiringi lagu yang “virusnya” dibawakan Hakan dari beberapa musim lalu, Made in Romania-sebuah lagu asal negara Chivu berasal.
Iali iali iali 🖤💙 pic.twitter.com/3f3SNMngM7
— Inter ⭐⭐ (@Inter) May 13, 2026