Banyak faktor penyebab keruntuhan Enron, perusahaan perdagangan energi asal Amerika Serikat yang pernah bercokol di peringkat ketujuh dalam daftar Fortune 500 di tahun 2000 silam. Penipuan, manipulasi, korupsi, dan sederet perilaku minus lainnya, jadi penyebab kebangkrutan perusahaan tersebut di tahun 2001. Selain itu, ada salah satu hal absurd lain yang menyebabkan mereka secara eksponensial menggali liang kuburnya sendiri yakni “birahi” besar mereka terhadap apa yang dinamakan “bakat”.
Enron, di bawah Jeffrey Skiling selaku CEO, melakukan pemujaan yang berlebihan terhadap orang-orang yang dianggap “berbakat”. Mempekerjakan banyak lulusan MBA terbaik dari universitas elit dengan gaji selangit, memberikan kebebasan penuh bagi mereka tanpa birokrasi yang mengekang, serta menempatkan kecerdasan jauh di atas pengalaman kerja dan prestasi yang ditorehkan.
Budaya “penyembahan” terhadap bakat ini ditanamkan secara mendalam oleh McKinsey selaku konsultan manajemen yang ditunjuk Enron. Hal ini sesuai dengan laporan berjudul The War for Talent yang diterbitkan McKinsey pada tahun 1990-an. Argumen utamanya adalah: di era ekonomi baru, aset terpenting perusahaan bukan lagi modal atau mesin, melainkan bakat (intelijen individu).
Hasil terhadap “pendewaan” kepada orang-orang cerdas tanpa sistem yang benar, menghasilkan kekacauan internal di tubuh Enron.
Sebagai contoh, Lynda Clemmons. Ia dikenal sebagai sosok yang menginisiasi dan menjalankan unit bisnis derivatif cuaca (weather derivatives) di Enron. Unit ini menciptakan instrumen keuangan untuk membantu perusahaan melindungi diri dari risiko kerugian akibat anomali cuaca. Selain derivatif cuaca, ia juga memprakarsai dan memimpin meja perdagangan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Selama 8 tahun bekerja di Enron, Clemmons, tidak pernah benar-benar lama di suatu posisi. Orang “berbakat” ini terus diberi tantangan baru dan pekerjaan baru, yang sebenarnya membuat penilaian kontribusi dia terhadap perusahaan menjadi membingungkan. Bagaimana seseorang bisa dinilai kinerjanya di sebuah posisi, jika dalam waktu yang singkat terus berubah jabatan.
Contoh lain yang lebih ekstrim lain ada nama Lou Pai. Prakarsanya terhadap beberapa bisnis di Enron mengalami kerugian besar, dan anehnya tetap mendapat kesempatan baru. Tiada evaluasi ketat terhadap kinerja yang ditorehkan karena Jeffrey Skiling menganggap Lou Pai sebagai “bakat jenius”. Seolah-olah di Enron, orang berbakat bisa seenaknya berbuat walau mengakibatkan boncos bagi perusahaan dan tidak ada konsekuensi atas apa yang dilakukannya.
Enron juga menciptakan sebuah sistem bernama “Rank and Yank” yang melakukan pemeringkatan terhadap kinerja karyawan oleh sebuah komite. Terdapat tiga kategori penilaian terhadap karyawan yakni:
- Peringkat A (Bintang): 5% teratas yang mendapatkan bonus besar dan promosi cepat.
- Peringkat B (Rata–rata): Mayoritas karyawan yang aman untuk sementara.
- Peringkat C (Terbawah): 15% karyawan yang berada di urutan terbawah.
- Yank (Pemecatan): Karyawan yang masuk dalam kategori C diberikan waktu yang sangat singkat untuk memperbaiki kinerja atau mereka akan langsung dipecat (yanked).
Sistem ini dibuat sebagai turunan dari konsep The War of Talent yang dibahas sebelumnya. Enron percaya bahwa perusahaan akan menjadi yang terkuat jika mereka terus-menerus membuang “beban mati” (orang-orang yang dianggap kurang pintar atau kurang produktif) dan menggantinya dengan lulusan-lulusan baru yang lebih cerdas dan kompetitif dari universitas elit.
Mungkin sistem ini dibuat untuk menciptakan banyak karyawan dengan kinerja luar biasa (high performer) sehingga memberikan kontribusi yang besar bagi perusahaan. Namun, Enron tidak berpikir bahwa untuk mencapai apa yang menjadi tujuan perusahaan diperlukan kerja sama tim yang harmonis. Sistem Rank & Yank malah menjadikan perusahaan sebagai arena gladiator antar karyawan yang membuat mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai puncak dan menghindari peringkat terbawah serta pemecatan hanya untuk kepentingan pribadi.
Melalui budaya dan sistem yang dibuat oleh Enron, perusahaan bukan lagi menjadi wadah untuk berkolaborasi dalam mencapai tujuan, yang terciptanya hanyalah panggung individu dan teater ego masing-masing orang.
INTER Era Moratti
Tiada Interista yang tidak mencintai Moratti. Cinta dan pengorbanan besarnya kepada INTER membuatnya disayang dan dihormati seluruh Interisti. Moratti pula yang menjadikan saya seorang Interista karena dialah yang membawa Ronaldo ke INTER, pemain yang membuat masa kecil saya banyak diisi waktu begadang buat nonton bola.
Moratti bagi saya kala itu adalah sosok pemilik klub yang sangat ideal. Banyak uang dan royal. Dia tidak segan menghamburkan uang pribadi untuk merekrut bintang-bintang besar untuk mendongkrak prestasi tim. Namun, musim demi musim berlalu, gelontoran uang telah dilakukan, tapi prestasi yang diperoleh jauh api dari panggang.

Ketika saya kecil, saya hanya berpikir bahwa INTER memang bernasib buruk saja hingga tidak sanggup meraih Scudetto ataupun UCL dengan segala hal yang telah diperbuat Moratti untuk tim, sebelum akhirnya saya menyadari bahwa selain itu memang ada hal yang saya rasa kurang pas dilakukan Moratti.
Moratti terlihat terjebak dalam pola pikir “mengumpulkan bakat” tanpa memikirkan bagaimana bakat tersebut bekerja dalam sebuah sistem. Kebijakan transfer lebih banyak didorong oleh hasrat personal (passion) dan obsesi pada nama besar, bukan pada kebutuhan taktis tim.
Contoh nyata yang dirasakan tentu saja ketika seringnya Moratti mengumpulkan banyak striker kelas dunia dan tidak terlalu menaruh perhatian lebih pada lini tengah serta belakang. Hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan antar lini. Jika lini depan mempunyai kualitas yang hampir setara antara para pemain inti dengan cadangan, maka beda halnya dengan lini tengah dan belakang yang terasa jomplang.
Selain itu, kasus paling terkenal dari tidak jelasnya rencana transfer INTER kala itu ialah bagaimana seorang Cannavaro ditukar dengan Carini. Salah satu bek kelas dunia dan kapten timnas Italia ditukar dengan kiper cadangan. Walau banyak beredar kabar, kesalahan transfer konyol ini dilakukan berkat manipulasi lihai Moggi yang dibantu oleh Mino sebagai agen dan Cannavaro sendiri yang rumornya memang ngebet pindah ke Juventus, tapi keputusan Moratti untuk melakukan tukar guling yang timpang ini secara langsung dengan rival patut dipertanyakan. Seperti halnya pula keputusannya untuk melakukan barter antara Seedorf dengan Coco, serta pindahnya Pirlo, ke tim rival lainnya, AC Milan. Moratti terlihat kerap bertindak berdasarkan insting emosional tidak hanya dalam hal perekrutan pemain, tapi juga dalam hal pelepasan pemain tanpa berpikir panjang bahwa terdapat potensi penguatan tim rival secara langsung.
Aktivitas transfer Moratti kala itu adalah representasi dari “Era Kolektor Bintang”. Ia membuktikan bahwa mengumpulkan individu-individu terbaik (seperti filosofi bakat Enron) tanpa sistem yang jelas hanya akan menghasilkan prestasi yang tidak konsisten – dengan hanya meraih 1 Piala UEFA di musim 1997/1998.
BACA JUGA:
2). Takdir Inzaghi
Setelah 1 dekade menjadi pemilik INTER, memang akhirnya Moratti mampu meraih Scudetto pertamanya dan juga Scudetto perdana saya selaku fans INTER. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, saya akui bahwa kejatuhan Juventus dan Milan sebagai penyumbang terbesar keberhasilan INTER mendapatkan Scudetto. Tanpa lawan kuat dan sepadan, INTER melenggang kangkung selama 5 musim beruntun menguasai kancah domestik. Namun, walau begitu, saya melihat terutama 2 musim terakhir ketika Moratti menunjuk Mourinho, aktivitas transfer INTER mulai lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan tim. Hal yang dimungkinkan terjadi berkat sosok keras dan tegas Mou yang tidak takut melakukan konfrontasi bahkan dengan presiden klub, yang lebih mengutamakan kualitas yang setara di semua lini, kedalaman skuat, dan perekrutan pemain berdasarkan kebutuhan tim dan sistem permainan, dan tidak hanya bersandarkan pada hasrat besar Moratti terhadap seorang pemain.
Milito adalah contohnya. Striker underrated ini kemungkinan tidak akan pernah tersirat untuk direkrut Moratti pada awal-awal kepemimpinannya di INTER. Keinginan besar Mou-lah yang akhirnya mampu meluluhkan Moratti untuk mendaratkannya ke INTER. Penyerang tanpa nama besar yang justru di kemudian hari menjadi pahlawan treble bagi INTER.
Sayang beribu sayang, saat Moratti mulai terlihat sadar bahwa selain uang dan talenta pemain, diperlukan juga sistem yang berjalan dengan baik untuk menghasilkan prestasi besar yang konsisten, kehadiran aturan FFP dan juga menurunnya cuan yang dihasilkan perusahaannya, membuatnya secara perlahan harus melepas INTER demi kebaikan tim dan juga perusahaannya sendiri.
Juventus Era Marotta
Conte dianggap sebagai juru selamat ketika secara ajaib dia mampu membawa Scudetto di musim pertama membesut Juventus, bahkan dengan rekor tanpa mengalami satu pun kekalahan. Invicibles. Sesuatu hal yang sangat luar biasa saat tim yang dua musim sebelumnya hanya bertengger di posisi 7, dia bawa melesat tanpa banyak diisi pemain-pemain dengan nama besar.
Kesuksesan tersebut berlanjut hingga dua musim berikutnya. Conte mencatat hattrick Scudetto bareng Juventus. Sudah tidak ada yang lagi beranggapan bahwa pencapaian Conte hanyalah fenomena langka seperti yang terjadi ketika Kaiserslautern musim 1997/1998 atau Leicester City musim 2015/2016 yang mampu membuat kejutan dengan menjuarai kasta tertinggi saat mereka baru promosi, namun setelahnya tiada lagi pencapaian tertinggi di liga yang dapat mereka gapai. Tiga gelar juara liga beruntun membuktikan bahwa Conte adalah pelatih spesial yang mampu meracik skuat yang ada sehingga terbentuk sebuah harmoni dalam sistem yang dia inginkan.
Maka tidak mengejutkan, ketika Conte memutuskan untuk berpisah dengan Juventus karena ambisi besarnya untuk menaikkan level Juventus di kancah Eropa terbentur kebijakan transfer manajemen, banyak yang memprediksi Juventus tidak akan lagi dengan mudah merajai gelaran lokal. Sang Mesias telah pergi, Juventus menyongsong era baru yang seolah di mata banyak orang seakan tidak pasti.
Pesimisme semakin menguat di kalangan fans Juventus pasca lengsernya Conte. Penunjukkan Allegri sebagai suksesor dianggap tidak sepadan. Pelatih tersebut beberapa bulan sebelumnya dipecat Milan, tapi anehnya manajemen justru menunjuk dia sebagai pengganti Conte. Bahkan mobil Allegri sempat dilempari telur oleh suporter saat pertama kali tiba di pusat latihan Juventus. Mereka tidak percaya bahwa langkah manajemen yang menunjukknya adalah keputusan yang benar.
Namun, hebatnya segala prediksi tersebut terpatahkan, bahkan di musim pertama Allegri melatih Juventus. Dia berhasil membawa Juventus mempertahankan gelar Scudetto, meraih Coppa Italia, dan melampaui pencapaian Conte di UCL dengan membawa tim ke final.
Hasil yang tidak hanya membuat terpana fans Juventus sendiri tapi seolah menampar Conte yang sebelumnya pernah berujar: “You cannot eat at a 100-euro restaurant with just 10 euros in your pocket” (Anda tidak bisa makan di restoran seharga 100 euro jika Anda hanya punya uang 10 euro di kantong), untuk menyindir manajemen Juventus bahwa mereka tidak bisa berharap memenangkan Liga Champions (restoran 100 Euro) jika mereka hanya mau mengeluarkan modal kecil (10 Euro) di bursa transfer. Memang Juventus gagal meraih juara UCL, tapi pencapaian tersebut seakan membuktikan bahwa “makan di restoran 100 Euro dengan uang terbatas” ternyata hampir mungkin dilakukan dengan pendekatan taktik yang berbeda.
Selanjutnya, seperti yang kita ketahui bersama, Allegri bersama Juventus tetap mendominasi Serie-A hingga musim 2018/2019 dan kembali membawa Juventus menjadi finalis UCL di musim 2016/2017.
7 kali beruntun menjadi penguasa liga dengan dua kali menembus final UCL (hingga musim 2017/2018), membuat mata banyak orang terbuka. Juru selamat itu bukan hanya Conte tapi juga ada sosok lain di belakang layar yang membuat tim ini menjadi sangat kuat dan konsisten dalam meraih prestasi. Dialah yang menjadi arsitek utama dalam pembuatan sebuah sistem yang seimbang baik di dalam dan luar lapangan sehingga individu-individu yang terdapat di dalamnya secara bersama-sama bekerja kolektif untuk menghasilkan prestasi besar. Dan sosok itu adalah Giuseppe “Beppe” Marotta.
INTER Era Marotta
Kejutan kembali terjadi di tubuh Juventus, jika sebelumnya Conte pergi karena menganggap manajemen terlalu hemat dalam menggelontorkan uang di bursa transfer, maka kali ini kabarnya justru Marotta yang kena depak karena dianggap terlalu konvensional dan tidak ambisius oleh para petinggi Juventus. Keinginan besar petinggi klub untuk sesegera mungkin untuk meraih juara UCL, membuat mereka kali ini tidak segan-segan untuk menggelontorkan uang besar di bursa transfer dengan coba mendatangkan sosok yang identik dengan juara UCL, sang mega bintang, Cristiano Ronaldo, dan hal tersebut tidak selaras dengan pandangan Marotta.
Marotta adalah sosok yang terlihat sangat hati-hati dalam hal finansial klub dan menginginkan agar semua pihak yang terlibat berada dan mengikuti sistem yang telah dibentuk. Marotta juga bukan pribadi yang gampang mengumbar kata-kata yang selanjutnya menjadi bahan gorengan media, sehingga sangat selektif dalam berbicara di depan pers, yang membuat semua orang hanya menebak-nebak apa yang menjadi pemicu sebenarnya dia keluar dari Juventus.
Banyak orang yang mengira bahwa dalam pikiran Marotta andai Juventus mendatangkan CR7 maka akan membuat sistem dan struktur yang telah ada menjadi berantakan. Gaji jumbo CR7 selain akan menjadi beban finansial yang besar bagi klub juga membuat gap yang sangat besar dengan gaji yang diterima oleh sebagian besar pemain. Selain itu, terdapat kekhawatiran kedatangan seorang mega bintang akan membuat para pemain bukan lagi bermain untuk tim, tapi untuk mengikuti dan “melayani” Ronaldo.
Selepas berpisah dengan Juventus, INTER bagai mendapatkan durian runtuh dengan mengamankan tanda tangan “dalang” utama kesuksesan Juventus selama ini. Musim pertama Marotta bertugas di musim 2018/2019, INTER memang tidak langsung menjadi juara, tapi berhasil membawa INTER kembali bercokol di posisi 4 klasemen akhir Serie-A untuk kembali secara dua kali beruntun berpartisipasi di Liga Champions, setelah musim sebelumnya Spalletti berhasil mengakhiri puasa keikusertaan INTER di UCL selama 6 musim lamanya.
Walau Spalletti sukses mengantarkan INTER kembali ke habitatnya untuk berkompetisi dengan tim-tin elit Benua Eropa lainnya, Marotta tampak menilai bahwa Spalletti tidak akan secara cepat mengubah kondisi INTER kembali menjadi pemenang. Track record Spalleti yang selama ini “hanya” sampai membawa tim-tim yang dibesutnya sebagai penantang gelar, menjadi pertimbangan untuk melakukan pergantian pelatih kepala di INTER.
Marotta melihat perlu sosok pelatih bermental juara dan suka akan tantangan karena akan bersaing dengan kekuatan Juventus yang perkasa selama ini di kompetisi lokal. Dan hal itu dia lihat dari sosok Conte yang kebetulan tengah menganggur. Tidak disangka juga ternyata Conte bersedia membelot menuju tim rival semasa dia menjadi pemain dan pelatih.
Kombinasi dua juru selamat Juventus akhirnya kembali berkolaborasi dengan misi yang hampir sama yaitu membangunkan kembali raksasa yang sudah lama tertidur. Dan, dampaknya terasa instan. Hanya dalam dua musim saja, dominasi Juventus selama 9 musim lamanya akhirnya mampu dihentikan. Terasa ironi memang, duet Marotta & Conte yang memulai dan mereka juga yang mengakhiri supremasi Juventus di Serie-A.

Sisi lain, keberhasilan INTER meraih gelar Scudetto setelah terakhir diraih 11 tahun yang lalu menjadi penanda dua era yang saling bersilangan. INTER bertransformasi menjadi salah satu klub terkuat di Italia yang konsisten, sedangkan Juventus mengalami kemerosotan prestasi, karena sejak itu atau 5 musim beruntun, jangankan menyabet gelar UCL yang lama mereka idam-idamkan, untuk menggondol Scudetto pun mereka sudah tidak sanggup – sesuatu yang sebelumnya seperti sebuah rutinitas yang mudah saja mereka lakukan.
Kekhawatiran Marotta sebelum meninggalkan Juventus seolah menjadi kenyataan. Keberadaan Ronaldo di Juventus tidaklah bisa dibilang gagal, dengan kontribusi 101 gol dan 22 asis selama 3 musim berseragam hitam putih, Ronaldo mempersembahkan 5 trofi yaitu 2 Scudetto, 1 Coppa Italia, dan 2 Suppercoppa Italiana, namun hal tersebut seperti dirasa “kurang” karena tidak berhasil mewujudkan impian klub untuk mengangkat si kuping besar, dan dengan gaji selangitnya telah merusak struktur gaji dan membebani neraca keuangan klub terutama ketika COVID-19 menghajar Bumi. Dan, setelah kepergian CR7 pun, lambat laun jajaran manajemen Juventus seperti mengalami kebingungan untuk membentuk kembali sistem yang ajeg dan terstruktur seperti yang telah dilakukan Marotta sebelumnya.
Saya melihat Juventus tanpa Marotta seperti INTER di bawah Moratti di awal-awal kepemipinannya. Di bawah Paratici yang dulunya tangan kanan Marotta, Juventus banyak melakukan pembelian pemain-pemain dengan banderol selangit untuk ukuran Serie-A. Mereka berpikir mengumpulkan talenta-talenta terbaik yang ditebus dengan harga mahal, dapat sesegera mungkin mengembalikan masa kejayaan Juventus setidaknya untuk gelaran lokal terlebih dahulu. Namun, seperti juga INTER di masa lampau, ketiadaan sistem yang jelas menjadikan kumpulan pemain-pemain berlabel mahal tersebut tiada artinya.
Marotta dan Sistem yang jadi Bintang
Tidak hanya “resep sukses” di Juventus yang dibawa Marotta ke INTER, tapi seolah sejarah pun ikut tereplikasi.
Conte kembali “tantrum” setelah mengantarkan INTER menyudahi puasa gelar Scudetto setelah 11 musim lamanya. Dia tampak penasaran dengan Liga Champions, sesuatu yang masih belum dapat ia raih selama karier kepelatihannya di level elit, dengan menginginkan merekrut pemain tambahan yang diperlukan serta mempertahankan bintang yang ada. Masalahnya, Sunning sang pemilik tengah menghadapi masalah di dalam negerinya sendiri yang bikin gonjang-ganjing, hingga tidak bisa mengakomodasi segala keinginan Conte.
Conte akhirnya berpisah dengan INTER, padahal masa bulan madu dengan capaian Scudetto masih seumur jagung. Apa yang dirasakan fans Juventus saat perginya Conte, tampaknya juga dirasakan oleh sebagian besar Interisti saat Conte memutuskan hengkang. Terdapat perasaan bahwa setelah ini Interisti akan menatap INTER kembali menuju era ketidakpastian. Apalagi yang ditunjuk Conte adalah Inzaghi yang tidak pernah sekalipun mencicipi Scudetto selama menangani Lazio.
Tapi, akhirnya seperti yang kita ketahui bersama, transisi bisa dibilang mulus. Tiada penurunan kualitas drastis yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan termasuk oleh Interisti sendiri. INTER berhasil menggamit 1 Scudetto, 2 Coppa Italia, dan 3 Supercoppa Italiana, serta di luar dugaan melaju hingga 2 kali final UCL di bawah Inzaghi. Peralihan halus tidak hanya terjadi di posisi pelatih, namun juga saat banyak pemain inti “harus” dilego demi kepentingan membiayai aktivitas transfer, berhasil digantikan oleh pemain-pemain baru yang awalnya banyak diragukan.
Begitu juga saat memasuki musim 2025/2026, saat Inzaghi memutuskan menerima pinangan Al-Hilal, dan manajemen menunjuk Chivu sebagai penggantinya, keresahan melanda Interisti. Pengalaman dan prestasi Chivu bahkan jauh lebih minim dibandingkan saat INTER memilih Inzaghi.
Namun, lagi-lagi kegundahan besar itu terpatahkan. Walau bisa dibilang prematur, karena Chivu belum memberikan gelar bagi INTER saat ini, tapi keberhasilannya membawa INTER menjadi juara paruh musim di tengah kepungan pelatih-pelatih yang jauh kaya pengalaman dan telah banyak meraih Scudetto seperti Conte, Allegri, dan terakhir masuk Spalleti bersama Juventus, sudah di luar dugaan banyak pihak yang banyak menyangsingkan pelatih yang diolok-olok sebagai Pelatih PENJAS tersebut.
Kejadian yang terjadi di Juventus dan juga INTER sudah bukan lagi sebuah kebetulan, tapi sudah seperti pola yang terbentuk dari sistem yang dirancang rapih. Jika masalah prestasi tim hanya bisa dipecahkan dengan merekrut pelatih dan pemain dengan bakat dan nama besar, maka MU di saat ini, Madrid terutamanya di era Los Galacticos pertama, INTER di awal-awal kepemipinan Moratti, Juventus selepas Marotta hengkang, atau PSG sebelum Enrique datang, seharusnya sudah menggapai beragam gelar tertinggi yang mereka idamkan secara konsisten. Namun, nyatanya tidak.
“Rahasia saya adalah membangun tim pemenang baik di dalam maupun di luar lapangan,” ujar Marotta dalam sebuah kesempatan. Baginya, setiap individu dalam organisasi—mulai dari staf medis, pemandu bakat, hingga pelatih—harus memiliki mentalitas juara yang sama. Ketika sistem pendukung ini bekerja secara harmonis, pemain yang masuk ke dalamnya akan lebih mudah beradaptasi dan memberikan performa maksimal.

Sistem Marotta mengajarkan bahwa pelatih dengan CV mentereng dan pemain dengan nama besar bisa meredup atau pergi, tetapi sistem yang kuat akan terus melahirkan kemenangan. Dalam ekosistem yang ia ciptakan, individu hanyalah bagian dari orkestra besar yang dipimpin oleh manajemen yang visioner. Itulah mengapa, bagi Marotta, kejayaan sebuah klub bukan tentang siapa yang “mencetak gol”, tetapi tentang bagaimana seluruh institusi bekerja untuk memastikan “gol” itu tercipta.
Bagi saya Marotta adalah transfer terbaik yang dilakukan oleh INTER dalam 1 dekade terakhir ini. Marotta menjadikan sistem sebagai bintang yang membawa kestabilan prestasi dan finansial bagi INTER selama ini, dan bukan individu seperti yang dilakukan oleh Enron.